Minggu, 05 Desember 2010

Contoh Database REA

Contoh Database REA

MODEL DATA REA
secara khusus dipergunakan dalam desain dtabase SIA sebagai alat pembuatan model konseptual yang fokus pada aspek semantik bisnis yang mendasari aktivitas rantai nilai suatu organisasi

Model data REA mengklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu : (berikan contoh)

1. sumber daya yang didapat dan dipergunakan organisasi (Resource)
contoh : kas dan persediaan, perlengkapan, gudang pabrik dsb

2. Kegiatan atau aktivitas bisnis yang dilakukan organisasi (Event)
Contoh : sales events, taking customer orders

3. Pelaku yang terlibat dalam kegiatan tersebut (agent)
Contoh : pegawai (staf penjualan dan kasir), pelanggan

Membangun diagram REA untuk siklus transaksi tertentu teriri dari empat langkah : (berikan contoh untuk macam2 siklus)

1. Identifikasi pasangan kegiatan pertukaran ekonomi yang mewakili hubungan kualitas dasar memberi-untuk-menerima, dalam siklus tersebut.Penjelasan :

  • Pertukaran ekonomi dasar dalam siklus pendapatan melibatkan penjualan barang dagangan atau pelayanan, serta serangkaian penerimaan kas sebagai pembayaran dalam penjualan tersebut.
  • Diagram REA untuk siklus pendapatan S&S dengan membuat entitas kegiatan penjualan dan penerimaan kas dalam bentuk persegi panjang, dan hubungan dualitas ekonomi antara mereka, dalam bentuk wajik

2. Identifikasi sumber daya yang dipengaruhi oleh setiap kegiatan pertukaran ekonomi dan para pelaku yang terlibat dalm kegiatan tersebut.Penjelasan :
  • Ketika kegiatan yang menjadi pusat perhatian telah ditentukan, sumber daya yang dipengaruhi oleh kegiatan tersebut perlu diidentifikasi.
  • Kegiatan penjualan dapat diterjemahkan menjadi pemberian persediaan kepada pelanggan.
  • Kegiatan penerimaan kas dapat diterjemahkan sebagai menerima kas dari pelanggan.
  • Setelah menentukan sumber daya yang dipengaruhi oleh setiap kegiatan, langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi pelaku yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan tersebut.
  • Paling tidak selalu terdapat satu pelaku internal (pegawai) dan, di sebagian besar kondisi, seorang pelaku eksternal (pelanggan/pemasok) yang terlibat dalam setiap kegiatan.
3. Analisis setiap kegiatan pertukaran ekonomi utnuk menetapkan apakah kegiatan tersebut harus dipecah menjadi suatu kombinasi dari satu atau lebih kegiatan komitmen dan kegiatan petukaran ekonomi.Penjelasan :

  • Langkah ketiga dalam menggambar diagram REA adalah menganalisis kegiatan pertukaran ekonomi untuk menetapkan apakah kegiatan tersebut dapat dipecah menjadi sebuah kombinasi dari satu atau lebih kegiatan komitmen dan pertukaran.
  • Contoh: Kegiatan penjualan dapat dipergunakan untuk mewakili baik penjualan dengan pengiriman maupun yang terjadi di toko. economic exchange event.
4. Tetapkan kardinalitas setiap hubungan.Penjelasan :

  • Kardinalitas menunjukkan bagaimana perumpamaan dalam satu entitas dapat dihubungkan ke perumpamaan tertentu dalam entitas lainnya.
  • Kardinalitas sering diungkapkan sebagai pasangan nomor di setiap entitas.
  • Nomor pertama adalah kardinalitas minimum, dan nomor kedua adalah kardinalitas maksimum.
  • Kardinalitas maksimem dari sebuah hubungan menunjukkan apakah setiap baris dalam entitas dapat dihubungkan lebih dari satu baris dalam entitas lainnya on the other side of the relationship.
  • Kardinalitas maksimem dapat baik 1 atau N.
  • Kardinalitas minimem 1 artinya bahwa setiap baris dalam tabel itu dapat dihubungkan ke hanya satu baris dalam tabel lainnya.Kardinal maksimem N artinya bahwa setiap baris dalam tabel itu bisa dihubungkan lebih dari satu baris dalam tabel lainnya.
MENGIMPLEMETASIKAN DIAGRAM REA DALAM D-BASE RELASIONAL

Mengimplemetasikan diagram REA ke dalam database relasional melibatkan proses tiga tahap, yaitu : (berikan contohnya ya )

  1. membuat sebuah tabel untuk setiap entitas berbeda dan untuk setiap hubungan banyak- ke-banyak (many to many)
  2. Memberikan atribut ke tabel yang tepat.Penjelasan :
  • Menetapkan Kunci Utama: Biasanya, kunci utama of a table representing an entity is a single attribute.
  • Other Attributes: Additional attributes are included in each table to satisfy transaction processing requirements.
3. Menggunakan kunci luar untuk mengimplementasikan hubungan satu ke satu (one to one) dan hubungan satu ke banyak (one to many)
Contoh : Hubungan Satu ke Satu: Di dalam database relasional, hubungan satu ke satu antara entitas dapat diimplementasikan dengan memasukkan kunci utama suatu entitas sebagai kunci luar dalam tabel yang mewakili entitas satunya.Contoh one to many :
Penjelasan :
  • Dalam database relasional, hubungan satu ke banyak dapat diimplementasikan juga dalam relasi ke database dengan menggunakan kunci luar.
  • Kunci utama dari entitas dengan kardinal maksimum N menjadi kunci luar dalam entitas dengan kardinal maksimum 1
  • Contoh: Nomor pegawai dan nomor pemasok adalah kunci luar dalam kegiatan pembelian dan kegiatan pengeluaran kas. i

Resource Event Agent

Pengertian Resource Event Agent (REA)

sumber daya, Acara, Agen (REA) adalah model bagaimana sebuah sistem akuntansi dapat kembali direkayasa untuk usia komputer. REA awalnya diusulkan pada tahun 1982 oleh William E. McCarthy sebagai model akuntansi umum, dan berisi konsep sumber daya, peristiwa dan agen.

REA adalah model yang populer dalam sistem informasi pengajaran akuntansi (AIS). Tapi ini jarang terjadi pada praktik bisnis-perusahaan tidak dapat dengan mudah membongkar sistem warisan mereka untuk memenuhi tuntutan radikal REA's.

Model REA menghilangkan objek akuntansi banyak yang tidak diperlukan dalam usia komputer. Yang paling terlihat dari ini adalah debit dan kredit-double-entry pembukuan menghilang dalam sistem REA. Banyak buku besar umum juga menghilang, setidaknya sebagai obyek persisten, - misalnya, piutang atau hutang. Komputer dapat menghasilkan account tersebut secara real time menggunakan catatan sumber dokumen.

REA memperlakukan sistem akuntansi sebagai representasi virtual bisnis yang sebenarnya. Dengan kata lain, itu menciptakan objek komputer yang langsung mewakili benda nyata dunia bisnis. Dalam istilah ilmu komputer, REA adalah suatu ontologi. Objek nyata termasuk dalam model REA adalah:

* Barang, jasa atau uang, yaitu, SUMBER DAYA
* Transaksi bisnis atau perjanjian yang mempengaruhi sumber daya, yaitu, KEJADIAN
* Orang atau badan-badan manusia lain (perusahaan lain, dll), yaitu, AGEN

Ini kontras objek dengan istilah akuntansi konvensional seperti aktiva atau kewajiban, yang kurang langsung terkait dengan objek dunia nyata. Sebagai contoh, aset akuntansi konvensional seperti goodwill tidak sumber REA.

Ada model REA terpisah untuk setiap proses bisnis di perusahaan. Sebuah proses bisnis secara kasar sesuai dengan departemen fungsional, atau fungsi dalam rantai nilai Michael Porter. Contoh dari proses bisnis akan penjualan, pembelian, konversi atau manufaktur, sumber daya manusia, dan pendanaan.

Di jantung masing-masing model REA biasanya ada sepasang peristiwa, dihubungkan oleh hubungan pertukaran, biasanya disebut sebagai hubungan "dualitas". Salah satu peristiwa biasanya merupakan sumber daya yang diberikan atau hilang, sementara yang lain merupakan sumber daya yang diterima atau diperoleh. Sebagai contoh, dalam proses penjualan, satu peristiwa akan "penjualan"-di mana barang diberikan up-dan yang lain akan "penerimaan kas", dimana kas diterima. Kedua peristiwa yang terkait, yaitu sebuah penerimaan kas terjadi dalam pertukaran untuk penjualan, dan sebaliknya. Hubungan dualitas dapat lebih kompleks, misalnya, dalam proses manufaktur, maka akan melibatkan lebih dari dua peristiwa (lihat Dunn et al [2004] untuk contoh.).

REA sistem biasanya dimodelkan sebagai database relasional, meskipun hal ini tidak wajib. Desain biasanya menggunakan diagram entitas-hubungan. Filosofi dari REA mengacu pada gagasan Pola Desain dapat digunakan kembali, meskipun pola REA digunakan untuk menggambarkan database daripada program berorientasi objek, dan sangat berbeda dari 23 pola kanonik dalam buku pola desain asli oleh Gamma et al. (Yang tidak mengherankan karena Gamma et al. Pola benar-benar penerapan pola untuk berkeliling kekurangan dalam C + + bukan dari pola desain per se). Penelitian di REA menekankan pola (misalnya, Hruby et al. 2006). Berikut adalah contoh pola REA dasar:

Pola ini diperluas untuk mencakup komitmen (janji untuk terlibat dalam transaksi, misalnya, seorang sales order), kebijakan, dan konstruksi. Dunn et al. (2004) memberikan gambaran yang baik pada tingkat sarjana (untuk jurusan akuntansi), sementara Hruby et al. (2006) adalah sebuah referensi canggih untuk ilmuwan komputer.

REA pengaruh berkelanjutan terhadap standar electronic commerce ebXML, dengan W. McCarthy secara aktif terlibat dalam komite standar. Standar XBRL GL bersaing namun adalah bertentangan dengan konsep REA, karena erat meniru double-entry pembukuan.

Minggu, 31 Oktober 2010

ALPIKASI SISTEM OPERASI AKUTANSI

Aplikasinya dibawah ini:

- VB 6

- DELPHI

- FOXPRO DAN C++

- VB.NET

Sabtu, 30 Oktober 2010

I. PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Pada era globalisasi modern sekarang ini komputer / laptop adalah sebuah alat yang sudah sangat pupuler. komputer telah memberikan berbagai macam kemudahan bagi maunusia dalam melaksanakan berbagai macam aktivitas harian. Menonton film, bermain game, menyelesaikan tugas hingga melaksanakan pekerjaan kantoran kesemuanya sekarang sudah tidak terlepas dari komputer karena semua hal tersebut dapat dilaksanakan dalam satu alat yang bernama komputer tersebut.

Melihat paradigma dan perkembangan kepopuleran komputer dalam masyarakat, kita dapat mencermati bahwa hampir semua lapisan masyarakat sudah bisa untuk menjalankan / mengoperasikan komputer namun tenaga yang bisa untuk memberikan jasa service komputer masih amat terbatas. Dengan latar belakang pendidikan pada jurusan informatika universitas muhammadiyah malang dan melihat peluang bisnis yang terbuka lebar tersebut, kami bermaksud untuk membuka usaha sevice computer yang mampu memberikan hasil kerja yang berkwalitas dengan pelayanan yang sangat memuaskan.

1.2 TUJUAN PEMBANGUNAN USAHA

Dalam pembangunan usaha ini terdapat beberapa tujuan yang hendak ingin dicapai
yang merupakan indikator dasar pembuatan usaha ini :
Media dalam mengimplementasikan ilmu yang telah didapat selama kuliah.
  • Membantu masyarakat yang kesulitan ketika komputenya rusak dengan cara menawarkan jasa service.
  • Memanfaatkan peluang usaha yang memiliki prospek yang amat menjanjikan untuk kedepanya.
  • Membuka peluang kerja baru bagi mahasiswa informatika yang baru lulus


II. ANALISA PRODUK

2.1 PRODUK YANG DITAWARKAN
Produk yang ditawarkan kepada konsumen dalam usaha ini adalah berupa jasa servis
dan penjualan perlengkapan computer.

2.1.1 Jenis servis komputer yang nanti akan kami tawarkan meliputi :
Servis hardware
Servis hardware nantinya meliputi perbaikan pada bagian fisik komputer yang
mengalami kerusakan seperti masalah pada hardisk, ram, dvd rom / rw dan lain-lain.
Software. Untuk kerusakan pada software, nantinya kami menangani masalah seperti masalah virus atau kesalahan penggunaan yang berakibat pada rusaknya system operasi pelanggan tersebut.
2.1.2 Jenis penjualan perlengkapan computer yang akan dijual adalah :
Aksesoris computer (Pelindung keyboard dan desktop, Speker, pembersih
computer dan lain-lain.) Perlengkapan suku cadang computer (Ram, Hardisk, keyboard PC, dan lain-lain.)


2.2 KEUNGGULAN PRODUK

Keunggulan usaha yang kami tawarkan disini telah kami analisa dengan baik sehingga dengan keunggulan-keunggulan tersebut kami dapat menarik konsumen lebih banyak. Keunggulan-keunggulan tersebut adalah :

1. Konsultasi kerusakan computer secara gratis.
Konsumen dapat mengkonsultasikan kerusakan komputenya secara gratis lewat e-mail
atau lewat group facebook yang telah kami buat.

2. Penanganan servis oleh tenaga yang berkompeten dalam bidangnya.
Tenaga kerja yang menangani masalah servis adalah mahasiswa teknik informatika yang
memiliki wawasan tentang computer.

3. Adanya jaminan terhadap barang yang diservis.
Kami memberikan garansi atas computer yang kami servis

4. Harga perlengkapan komputer yang lebih murah.
Barang yang kami jual diambil langsung dari prodesen sehingga jual kekonsumen murah.

III. ANALISA PASAR

3.1 PELUANG PASAR

Peluang pasar yang dimiliki usaha jasa servis dan penjualan perlengkapan komputer ini sangat menjajikan. Tingkat kebutuhan masyarakat terutama masyarakat perkotaan akan komputer dan hal-hal lain yang terkait dengannya terlihat menggalami peningkatan yang cukup signifikan. Salah satu indikator meningkatnya kebutuhan masyarakat akan komputer adalah semakin genjarnya perusahaan-perusaan computer yang saling berupaya untuk menghadirkan sebuah terobosan teknologi computer terbaru yang bisa menampung dan menunjang segala kegiatan kehidupan dengan disesuaikan dengan perkembangan zaman yang ada. Dengan semakin banyaknya computer yang terjual di masyarakat maka keperluan perawatan dan servis pasti akan sangat diperlukan, latar belakang pendidkan yang berbeda membuat tidak semua masyarakat bisa untuk memberikan servis yang baik kepada computer yang dimilikinya. Peluang inilah yang nanti bisa kita manfaatkan untuk menghasilkan sebuah usaha yang dapat memberikan keuntungan yang banyak.



3.2 SEGMENTASI PASAR

Sasaran usaha jasa servis dan penjualan perlengkapan komputer ini pada dasarnya tidak dibedakan karena yang terpenting adalah orang tersebut memilki komputer yang menggalami kerusakan. Terlepas dari pandangan segmentasi pasar secara umum tersebut kita juga dapat menggelompokan sasaran usaha ini secara khusus. Penggelompokan secara khusus ini didasarkan pada objek yang paling banyak menggunakan komputer. Dalam penggelompokan ini para pegawai kantor dan mahasiwa merupakan sasaran dari segmentasi pasar ini.

3.3 ANALISA PELANGGAN
Karakteristik dari pelanggan :
  • Geografi : perkotaan
  • Status :belum menikah
  • Sex :laki-laki dan perempuan
  • Pekerjaan :pegawai dan mahasiswa
  • Umur :remaja dan dewasa


3.4 MEDIA PROMOSI YANG DIGUNAKAN

Promosi dilakukan dengan cara online dan offline yang ini dimaksudkan agar penyampaian promosi ke masyarakat dapat lebih cepat diserap. Pelaksanaan promosi direncanakan akan dilakukan selama empat bulan. Berikut adalah media promosi yang digunakan :
1. Internet
Memasang iklan lewat internet seperti lewat facebook atau website yang menyediakan
layanan iklan.

2. Surat kabar.
Agar masyarakat yang suka membaca berita lewat Koran dapat menyerap informasi
promosi tersebut.

3. Radio
Radio saat ini bisa didengar oleh masyarakat secara lebih luas dan tidak terbatasi oleh
factor ekonomi.

4. Penyebaran brosur.
Dilakukan sebagai upaya promosi penunjang dari promosi-promosi yang sudah ada.
Penyebaran brosur dilakukan di kantor dan universitas yang tersebar dikota malang.

3.5 STRATEGI PEMASARAN

Agar usaha jasa servis dan penjualan perlengkapan komputer ini dapat dengan cepat menarik perhatian masyarakat dan mampu popular diantara sekian banyak usaha sejenis yang sudah ada, maka berikut adalah strategi pemasaran yang nanti akan kami kembangkan :

1. Melakukan promosi khusus selama dua minggu sebelum usaha ini benar-benar dibuka, ini adalah terobosan awal agar masyarakat mengetahui akan hadirnya usaha ini.

2. Memberikan diskon khusus selama satu minggu kepada konsumen yang melakukan
servis atau membeli perlengkapan computer dalam jangka waktu tersebut.

3. Membuat sebuah group pada salah satu situs jaringan social seperti facebook yang bertujuan untuk membuka semacam media untuk berdiskusi tentang usaha yang dikembangkan ini. Pada bulan pertama ditargetkan seluruh mahasiswa informatika anggkatan 2007 telah bergabung dalam komunitas ini.

4. Melakukan kerja sama dengan beberapa penyelengara usaha sejenis yang letaknya
berada pada sebuah lokasi yang berbeda agar produk dapat lebih mudah terjual.


3.5 ANALISA PESAING

Peluang usaha yang memilki potensi besar tentunya akan mendapat pesaing-pesaing yang berkwalitas pula. Begitu juga dengan usaha yang akan kita bangun kali ini, Terdapat beberapa pesaing yang menurut kami mampu untuk memberikan pengaruh terhadapat perkembangan usaha yang akan kita jalankan ini kedepanya. Berikut adalah beberapa pesaing yang akan kita hadapai serta

kekuatan yang mereka miliki saat ini :
1. Borneo komputer.
Mereka memberikan penawaran harga yang relative murah serta memilki cabang
dibeberapa daerah yang tersebar dikota malang.

2. Kirana aktif.
Memilki cabang pemasaran yang sudah tersebar dikota malang dan memiliki stategi
bisnis yang bagus yang terlihat dari ramainya konsumen yang datang.

3. Bio Komputer.
Mereka memilki cabang yang banyak dikota malang serta tenaga kerja yang memilki
kwalitas baik


IV. ANALISA PRODUKSI DAN OPERASI

4.1 PROSES PRODUKSI

Untuk mendukung proses produksi dan pelayanan pada usaha ini kami memilki beberapa tenaga kerja. Sesuai dengan jenis usaha yang dijalankan, tenaga kerja yang ada merupakan orang-orang yang memiliki latar belakang pendidikan computer baik itu yang secara langsung menangani masalah servis ataupun yang menjadi mediator dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berasal dari konsumen yang masuk lewat media internet. Untuk masalah barang-barang yang dijual kami secara langsung memesan dari produsen atau agen resmi.

4.2 BAHAN YANG DIPERLUKAN

Untuk menjalankan usaha ini berikut adalah bahan-bahan serta perlengkapan yang
kami butuhkan yang nanti akan mendukung kelancaran usaha ini :
1. Komputer
2. Tools yang digunakan untuk melakukan service.
3. Printer.
4. Alat komunikasi (HP / Telepon).
5. Buku dan alat tulis serta kwitansi toko.
6. Akses Internet.

V.PENUTUP

Demikian proposal ini kami buat, besar kiranya harapan kami agar kedepanya usaha ini dapat benar-benar dibangun karena melihat peluang usaha yang sangat menjanjikan. Dengan adanya proposal ini kami berharap dapat menjadi referensi untuk pembuatan proposal kedepannya.



INFRASTRUKTUR untuk E-BUSINESS

Kemajuan teknologi komunikasi dan jaringan, terutama internet, menyediakan inrastruktur yang dibutuhkan untuk e-business. Bagian ini memberikan pengantar atas gambaran umum konsep jaringan dan mendiskusikan isu-isu strategis yang berkaitan dengan metode-metode alternatif yang dapat dipergunakan organisasi dalam mengimplementasikan e-business.
Jenis-jenis Jaringan.

Jaringan telekomunikasi dibanyak perusahaan dipergunakan untuk melakukan e-commers dan mengelola operasi internal yang terdiri dari beberapa komponen, yaitu:
1. Local Area Network (LAN)
2. Wide Area Network (WAN)
3. Value-added Network dan
4. Internet

Software Komunikasi
Software komunikasi mengelola aliran data melalui suatu jaringan. Software komunikasi didesain untuk bekerja dengan berbagai jenis peraturan dan prosedur untuk pertukaran data.

Software ini melaksanakan fungsi-fungsi sebagai berikut:

1. Pengendalian akses
Software ini berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan hubungan antar-berbagai peralatan,secara otomatis memutar dan menjawab telepon, membatasi akses hanya pada para pemakai yang berwenang; serta membuat parameter seperti. kecepatan, mode, dan arah pengiriman.

2. Pengelolaan jaringan
Pada software ini berfungsi untuk mengumpulkan data untuk memeriksa kesiapan peralatan jaringan untuk mengirim atau menerima data, membuat aturan antri untuk masukan dan keluaran, menetapkan prioritas dalam sistem,mengirimkan pesan, dan mencatat aktivita, penggunaan, dan kesalahan dalam jaringan.

3. Pengiriman data dan file
Software ini berfungsi untuk mengontrol pengiriman data, file dan pesan-pesan diantara berbagai peralatan.

4. Pendeteksi dan pengendalian atas kesalahan
Software ini berfungsi untuk memastikan bahwa data yang dikirim benar-benar merupakan data yang diterima.
5. Keamanan data
Software ini berfungsi untuk melindungi data selama pengiriman dari akses pihak yang tidak berwenang.


PILIHAN KONFIGURASI JARINGAN

Konfigurasi LAN

Konfigurasi LAN mempunyai tiga ciri dasar, yaitu: konfigurasi bintang, konfigurasi cincin, dan konfigurasi.
1. Konfigurasi Bintang
Dalam konfigurasi bintang, setiap peralatan secara langsungb terhubung dengan server pusat. Seluruh komunikasi antara peralatan dikendalikan dan dikirim melalui serverv pusat. Biasanya, server akan mengumpulkan data setiap peralatan untuk melihat apakah peralatantersebut ingin mengirim pesan. Konfigurasi bintang adalah cara termahal untuk membangun LAN karena membutuhkan banyak sekali kabel untuk menghubungkannya. Akan tetapi, keunggulan utamanya adalah apabila salah satu titik sedang gagal (down), kinerja jaringan yang lain atau jaringan selebihnya tidak terganggu.

2. Konfigurasi Cincin

Pada konfigurasi cincin, setiap titik secara langsung terhubung dengan dua titik lainnya. Ketika sebuah pesan melalui cincin tersebut, setiap titik akan memeriksa judul paket untuk menetapkan apakah data tersebut ditujukan bagi titik berkaitatau tidak. LAN yang dikonfigurasikan cincin mempergunakan software yang disebut dengan token. Token ini berfungsi sebagai untuk mengendalikan aliran data dan untuk mencegah tabrakan. Token secara terus-menerus beroperasi disepanjang cincin. Jadi, titik-titik lainnya harus menunggu hingga pesan yang dikirim sampai pada tujuannya dan token tersebut bebas kembali, sebelum mereka dapat mengirim data. Apabila hubungan dalam cincin rusak, jaringan tersebut dapat berfungsi, walaupun lebih pelan, dengan cara mengirimkan seluruh pesan ke arah yang berbeda.

3. Konfigurasi BUS

Didalam konfigurasi BUS, setiap peralatan dihubungkan dengan saluran utama, atau yang disebut BUS. Pengendali komunikasi didesentralisasi melalui jaringan BUS. Konfigurasi BUS mudah untuk diperluas dan lebih murah untuk dibuat daripada konfigurasi bintang. Akan tatapi, kinerjanya akan menurun apabila jumlah titik yang dihubungkan meningkat.

Proses,Manajemen dalam E-Bisnis

Proses E-bisnis

Secara konsep e-bisnis memang menawarkan bisnis yang efektif dan efisien. Namun untuk mencapai hal tersebut tentu saja pebisnis harus menjalankan resep-resep sukses menjalankan e-bisnis. Bob Julius Onggo, penulis buku seputar pemanfaatan media internet untuk bisnis, dalam sebuah tulisannya memuat 7 langkah taktis untuk sukses dalam e-bisnis.

Langkah pertama yang dijabarkan adalah fokus. Alasannya, dalam kasus e-bisnis, puluhan atau ratusan produk tidak memiliki manajer produk yang mengawasinya. Dan hanya diserahkan ke orang TI-nya saja. Oleh karena itu produk-produk yang dijual di internet juga harus menjadi bagian yang fokus dari masing-masing manajer produk.

Langkah kedua, membuat banner berupa teks. Menurutnya, berdasarkan hasil riset, telah terbukti bahwa tingkat respons dari suatu “klik” lebih banyak berasal dari “banner berupa teks” bukan berasal dari “banner berupa gambar”. Kebanyakan orang, masih belum tahu dalam hal ini.

Langkah ketiga, menciptakan 2-level afiliasi. Dalam dunia online, e-bisnis yang berhasil harus menciptakan program distribusi pemasaran program afiliasi.Dengan teknologi internet, pebisnis akan mampu membangun 2 tingkat afiliasi, maksudnya distributor penjualan utama dan agen penjualan kedua. Distributor/dealer utama mendapatkan komisi lebih besar, misalnya 20% dan supplier yang mengambil barang dari dealer utama tersebut mendapat komisi 5 atau 10%.

Langkah keempat, memanfaatkan kekuatan email. Email adalah aktivitas pertama yang paling banyak digunakan di Internet, kedua adalah situs pencari. Karena itu manfaatkan kekuatan pemasaran yang dapat dilakukan oleh email. Dalam hal ini pemasaran melalui email atas dasar persetujuan (permission), bukan spamming. Ingat, kebanyakan penjualan terjadi setelah beberapa kali di follow-up, bukan dari hasil instan karena kunjungan pertama mereka ke situs web Anda.

Langkah kelima adalah menulis artikel. Kebanyakan penjualan adalah hasil dari proses edukasi atau sosialisasi, jadi jangan berpikir bisa menjual kalau malas menulis untuk mengedukasi bisnis/produk.

Langkah keenam melakukan e-Marketing. 75% dari waktu tim pemasaran harus berpusat pada pemasaran, kombinasikan antara strategi offline dan online. Menurut Bob dalam tulisan tersebut, kebanyakan dari kesalahan e-bisnis adalah pebisnis terlalu banyak mencurahkan waktu di proses bisnis serta teknologinya. Hal ini memang tidak salah dan ini memang harus dilakukan oleh orang TI, namun tim pemasaran di perusahaan juga harus mengetahui teknik-teknik pemasaran online (eMarketing) bukan saja secara offline.

Langkah terakhir, melakukan komunikasi secara instan. Kebanyakan dari kegagalan dalam e-bisnis adalah masalah soal kepercayaan dan komunikasi. Kepercayaan dapat ditingkatkan apabila komunikasi antara produsen dan konsumen berlangsung instan, cepat dan tidak tertunda. Misalnya dalam kecepatan menjawab email.

Membangun Strategi/Manajemen e-bisnis

E-business tidak dapat bekerja tanpa strategi. Strategi e-bisnis dibutuhkan untuk mendukung arah strategis perusahaan secara keseluruhan.
Canada adalah satu dari koneksi internet paling banyak di dunia. Tetapi sektor bisnis kecilnya tertinggal secara signifikan di belakang Amerika Serikat dalam hal adopsi e-bisnis. Mengapa? Karena terlalu kecil dari bisnis yang ada memiliki strategi e-bisnis yang sesungguhnya (menurut penelitian Forrester Research, hanya 14%-nya yang memiliki strategi bisnis, jauh tertinggal di belakang Amerika Serikat.

Agar dapat sukses dalam e-bisnis, pebisnis perlu mengembangkan strategi e-bisnis. Berikut ini beberapa pertanyaan akan membantu untuk mempertimbangkan kapan mengembangkan strategi e-bisnis. Jawaban pertanyaan akan membantu pebisnis untuk fokus pada inisiatif dengan berdampak potensial terbesar pada bottom line perusahaan.

  1. Proses bisnis yang mana saat ini menawarkan peluang terbesar untuk mengurangi biaya, mengefisiensikan perolehan dan meningkatkan keuntungan?
  2. Dimana bisnis mendapatkan keuntungan sebuah keuntungan kompetitif melebihi pesaing?
  3. Wilayah mana yang menyebabkan paling bermasalah pada organisasi dengan respek kepada pelayanan dan penghargaan kepada pelanggan?
  4. Apakah senior manajemen atau orang penting sepakat untuk mengimplementasikan solusi ini? Apakah mereka memiliki kemauan untuk memenangkan inisiatif dalam organisasi?
  5. Bagaimana e-bisnis akan memberi solusi mengubah struktur dasar organisasi? Apa perubahan pada susunan pegawai, keahlian dan komunikasi/informasi mengalir mendapatkan hasil secara potensial dari latihan-latihan ini?
  6. Pelatihan aoa yang dibutuhkan untuk menyakinkan bahwa karyawan-karyawan mampu untuk memaksimalkan keuntungan potensial dari solusi ini? Bagaimana bisa melibatkan mereka dari memulai untuk memaksimalkan input pekerja, pendidikan dan komitmen?
  7. Return on investment (ROI potensialnya? Bagaimana melakukan perbandingan ini dengan opsi investasi lainnya?

E-BISNIS


E-bisnis

Pengertian,Jenis,Modal,dan Ruang Lingkup

E-bisnis (Inggris: Electronic Business, atau “E-business”) dapat diterjemahkan sebagai kegiatan bisnis yang dilakukan secara otomatis dan semiotomatis dengan menggunakan sistem informasi komputer. Istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh Lou Gerstner, seorang CEO perusahaan IBM ini, sekarang merupakan bentuk kegiatan bisnis yang dilakukan dengan menggunakan teknologi Internet. E-bisnis memungkinkan suatu perusahaan untuk berhubungan dengan sistem pemrosesan data internal dan eksternal mereka secara lebih efisien dan fleksibel. E-bisnis juga banyak dipakai untuk berhubungan dengan suplier dan mitra bisnis perusahaan, serta memenuhi permintaan dan melayani kepuasan pelanggan secara lebih baik.

Dalam penggunaan sehari-hari, e-bisnis tidak hanya menyangkut e-dagang (perdagangan elektronik atau e-commerce) saja. Dalam hal ini, e-dagang lebih merupakan sub bagian dari e-bisnis, sementara e-bisnis meliputi segala macam fungsi dan kegiatan bisnis menggunakan data elektronik, termasuk pemasaran Internet (e-pemasaran). Sebagai bagian dari e-bisnis, e-dagang lebih berfokus pada kegiatan transaksi bisnis lewat www atau Internet. Dengan menggunakan sistem manajemen pengetahuan, e-dagang mempunyai goal untuk menambah revenu dari perusahaan.

Sementara itu, e-bisnis berkaitan secara menyeluruh dengan proses bisnis termasuk value chain: pembelian secara elektronik (electronic purchasing), manajemen rantai suplai (supply chain management), pemrosesan order elektronik, penanganan dan pelayanan kepada pelanggan, dan kerja sama dengan mitra bisnis. E-bisnis memberi kemungkinan untuk pertukaran data di antara satu perusahaan dengan perusahaan lain, baik lewat web, Internet, intranet, extranet atau kombinasi di antaranya.

Ruang Lingkup e-bisnis 4 W terdiri dari Dimensi Who, What, Why, Where

Dimensi What.
Wilayah e-bisnis mencakup kolaborasi antara organisasi dan mitranya, interaksi antara organisasi dan pelanggannya, pertukaran informasi antara organisasi dengan para stakeholder, dan lain sebagainya. Luasnya komunikasi yang dimungkinkan dengan teknologi internet berdampak pada luasnya wilayah e-bisnis.

Dimensi Who.
Entitas-entitas yang berinteraksi dalam suatu sistem ebisnis dapat diklasifikasikan menjadi: Agent, Business, Consumer, Device, Employee, Family, and goverment.

Dimensi Where.
Kegiatan e-bisnis dapat dilakukan di mana saja, sejauh pihak-pihak yang berkepentingan memiliki fasilitas elektronik sebagai kanal akses (access channel)

Dimensi Why.
Penerapan e-bisnis tidak saja menguntungkan organisasi karena banyaknya komponen biaya tinggi yang dapat dihemat, tetapi juga memberikan kesempatan kepada organisasi untuk menaikkan tingkat pendapatannya.

Sabtu, 17 April 2010

PERTHANAN dan KEAMANAN NASIONAL

Pertahanan dan keamanan negara
pada milenium ketiga


Milenium ketiga ditandai dengan berbagai fenomena fundamental yang mengubah wacana politik, keamanan dan pertahanan. Fenomena itu adalah perkembangan teknologi, gelombang demokratisasi, interdependensi hubungan antar bangsa. Dengan globalisasi sebagai impuls utamanya, fenomena itu telah memporakporandakan kerangka lama hubungan antarnegara, dan secara berarti mengubah gravitas politik domestik negara-negara. Apa yang selama ini dimengerti sebagai ke[tidak]amanan, sebagai aras pertemuan antara hubungan antarnegara dan dinamika yang terjadi dl dalam suatu negara, mengalami transformasi luarbiasa. Pertahanan adalah salah satu unsur dari keamanan. Akibatnya, ketika struktur dan proses yang terlibat dalam interaksi keamanan itu memerlukan kajiulang demikian pula halnya dengan pertahanan. Sistem pertahanan, organisasi pertahanan, dan pertanggungjawaban kebijakan pertahanan merupakan masalah-masalah dasar yang memerlukan pemikiran mendalam.

Keamanan merupakan istilah yang secara sederhana dapat dimengerti sebagai suasana "bebas dari segala bentuk ancaman bahaya, kecemasan, dan ketakutan". Dalam kajian tradisional, keamanan lebih sering ditafsirkan dalam konteks ancaman fisik (militer) yang berasal dari luar. Walter Lippmann merangkum kecenderungan ini dengan pernyataannya yang terkenal: "suatu bangsa berada dalam keadaan aman selama bangsa itu tidak dapat dipaksa untuk mengorbankan nilai-nilai yang diaggapnya penting (vital) ...dan jika dapat menghindari perang atau, jika terpaksa melakukannya, dapat keluar sebagai pemenang. Karena itu, seperti kemudian disimpulkan Arnord Wolfers, masalah utama yang dihadapi setiap negara adalah membangun kekuatan untuk menangkal (to deter) atau mengalahkan (to defeat) suatu serangan. Dengan semangat yang sama, kolom keamanan nasional dalam International Encyclopaedia of the Social Science mendefinisikan keamanan sebagai kemampuan suatu bangsa untuk melindungi nilai-nilai internalnya dari ancaman luar".

Nexus military-external, dengan negara sebagai subyek, sangat dominan, dalam pendekatan Barat mengenai ke[tidak]amanan. Dalam konsepsi-konsepsi tersebut kekuatan militer selalu dianggap sebagai unsur yang paling penting. Definisi semacam itu dapat dimengerti, terutama dengan mengingat sejarah pembentukan negara-negara Barat yang berangkat dari konsepsi Westpha1ian tentang ‘negara-bangsa’ (nation-state). Hanya sebagian kecil dari mereka yang masih menghadapi persoalan fundamental mengenai formasi dan institusi pengorganisasian negara. Bahkan dalam kasus seperti Quebec di Kanada, upaya untuk meneguhkan identitas kenegaraan dilakukan dengan cara non-kekerasan (non-violent). Konstitusi Soviet, dan kemudian Rusia, mengakui hak pemisahan diri secara damai.

Sebaliknya, dalam konteks negara-negara berkembang definisi itu sukar seluruhnya diterima. Tidak seperti negara-negara Barat yang lebih maju, peninggalan kolonial (colonia11egacy) menyebabkan sebagian dari mereka terlebih dahulu berhasil membentuk negara sebelum berhasil membangun bangsa, sehingga dalam banyak kasus, mereka menghadapi sekaligus tugas ganda bina-bangsa (nation-building) dan bina-negara (state-building). Upaya itu tentu merupakansebuah proyek besar; dan keamanan lebih banyak berkaitan dengan dimensi politik daripada militer.

Pertanyaan paling relevan dalam konteks itu adalah “keamanan terhadap apa, oleh siapa, dan untuk siapa”. Sebagai negara yang dibangun di atas reruntuhan kolonial, dan akibatnya seringkali menghadapi masalah penarikan garis batas arbitrer yang melintasi pembelahan tradisional (suku, agama dan unsur parokia1is lainnya), negara adalah instrumen untuk bina-bangsa. Pluralitas sosial dan kultural menyebabkan negara-negara itu merupakan suatu entitas yang oleh Anderson disebut imagined community. Loya1itas kepada negara bisajadi merupakan prioritas yang lebih rendah dari loyalitas kepada masyarakat tradisionalnya; dan memba1ik prioritas itu bukan merupakan soal sederhana. Tak jarang terjadi konflik kepentingan antara loyalitas kepada masyarakat atau kepada negara. Domain dan scope kekuasaan negara menjadi terbatas. Pemerintah, sebagai perwakilan masyarakat untuk melaksanakan kebijakan negara, memiliki keharusan untuk memenuhi elemen “kenegaraan yang memadai” (adequate stateness), terutama bagaimana menciptakan perimbangan antara kemampuan menggunakan kekerasan (coercive capacity), kekuatan infrastruktural (infrastructural power), dan legitimasi tanpa-syarat (unconditional legitimacy).

Kerap kali situasi itu menimbulkan masalah serius. Di satu sisi, diperlukan mobilisasi resources dan kecanggihan politik tertentu untuk bisa mempertahankan diri sebagai suatu entitas politik yang diterima dan diakui sebagai entitas yang memiliki otoritas atas rakyatnya. Di lain pihak, seringkali hal ini juga menjadikannya vulnerable terhadap tekanan pihak luar (negara yang lebih besar, lembaga-lembaga internasional dan transnasional), kelompok separatis dan gerakan supranasional. Sebagai negara yang selalu dilibat masalah binanegara, dan sebagai pendatang baru dan lemah dalam masyarakat internasional, security problematicue mereka adalah bagaimana memantapkan kenegaraannya dan seka1igus memainkan peran tertentu dalam masyarakat internasional.

Ancaman yang dihadapi oleh negara-negara berkembang jauh lebih majemuk dibanding yang harus dihadapi negara-negara maju. Selain menghadapi ancaman luar terhadap wilayahnya, sebagian besar negara-negara berkembang menghadapi tantangan untuk memantapkan bangunan negara. Ketika, seperti dikemukakan sebelumnya, ancaman luar bukan satu-satunya ancaman atau dalam kasus sebaliknya menyangkut wilayah-wilayah yang non-defendable, dan ketika legitimasi kepemimpinan politik lebih banyak disandarkan pada kontrak sosial yang secara reguler dipertanggujawabkan melalui pemilihan umum, ketika itu “keamanan untuk siapa” (whose security) menjadi persoalan yang relevan. Dalam konteks ini, beberapa pengamat menuntut pembedaan antara keamanan negara, regime, societal, dan/atau individual. Upaya belanegara seringkali mengalami penyempitan arti menjadi bela regime dan/atau bela pemerintahan. Komplikasi pertama bagi konsep keamanan adalah bahwa belanegara seringkali harus dilakukan dengan tindakan-tindakan yang secara moral bertentangan dengan perlindungan bagi masyarakat. Upaya untuk “menjaga ketertiban dan melindungi keamanan negara” seringkali harus dilakukan justru dengan kebijakan yang bertentangan dengan semangat “menciptakan kesejahteraan dan melindungi kepentingan rakyat”.

Komplikasi kedua berasal dari diskursus kontemporer yang memberikan definisi keamanan secara fleksibel dan longgar, dengan memasukkan unsur dan perspektif yang tidak terdapat dalam diskursus tradisional. Bagi Caroline Thomas dan Jessica Mathews, misalnya, keamanan bukan hanya berkaitan dengan nexus military-external tetapi juga menyangkut realitas global. Keamanan, menurut Thomas dan Mathews,bukan hanya terbatas pada dimensi militer, seperti sering diasumsikan dalam diskusi tentang konsep keamanan, tetapi merujuk pada seluruh dimensi yang menentukan eksistensi negara ...[termasuk di dalamnya] upaya memantapkankeamanan internal melalui bina-bangsa, ketersediaan pangan, fasilitas kesehatan, uang dan perdagangan, maupun melalui pengembangan senjata nuklir.

Dalam diskursus keamanan kontemporer banyak dimensi yang kemudian diperbincangkan dalam rubrik keamanan non-militer, atau non-konvensional (non-conventional threat). Kajian-kajian baru yang kemudian muncul dalam diskursus kontemporer adalah, antara lain, keamanan lingkungan (environmental security), keamanan pangan (food security), keamanan energi (energy security), dan keamanan ekonomi (economic security).

Selain itu, dalam diskursus kajian perdamaian (peace studies), dikenal pembedaan antara konsep perdamaian membedakan “perdamaian negatif” (negative peace) dari “peraamaian positif” (positive peace). Konsep pertama, perdamaian negatif, semata-mata concern dengan tidak adanya perang. Pendekatan keamanan (security approach) sangat dominan dalam kajian ini. Doktrin pertahanan dan penangkalan, dengan kekuatan militer sebagai penyangga utama keamanan, menjadi pijakan utama. Dalam konsep kedua, perdamaian positif, yang didefinisikan sebagai tidak adanya kekerasan dan ketidakadilan, kekuatan militer memang bukan merupakan kekuatan yang dapat diandalkan untuk menjawab ancaman. Kemampuan mi1iter hanya satu dari berbagai unsur kemampuan nasional yang bisa berasal dari kekuatan ideologi, ekonomi, politik atau yang lain. Dipercaya bahwa demokrasi berkeadilan (democratic justice) merupak:an pendekatan pokok untuk mengatasi ketidakamanan.

Titik temu antara diskursus kontemporer dan tradisional itu adalah kedaulatan (sovereignty). Namun konsep kedaulatan tersebut kini menghadapi tantangan yang sangat serius. Fenomena globalisasi yang digambarkan dalam berbagai istilah (mulai dari transnational-scene hingga global oukumene) merujuk pada gejala luluhnya tapalbatas (boundary eroding). Kedaulatan menjadi sesuatu yang sangat relatif. Beberapa penemuan di bidang teknologi militer dan komunikasi telah secara berarti mengikis dimensi ruang dan waktu. Dimensi geografis mengalami kontraksi; dan waktu yang diperlukan untuk mengantisipasi ancaman (early warning) menjadi semakin pendek. Berbagai bentuk ancaman, militer maupun non-militer, mempunyai dayatembus (penetrability) yang semakin besar. Difusi ide-ide baru dan muncu1nya senjata-senjata berteknologi tinggi, khususnya yang termasuk dalam wilayah kelabu (grey areas), memperkuat sosoknya sebagai unchallangable threats. Di bidang militer, perbedaan antara senjata defensif dan ofensif menjadi semakin kabur . Miniaturisasi hulu ledak adalah peningkatan dayatahan (defensif) karena dengan demikian mempermudah upaya concealment. Pada saat yang sama, miniaturisasi hululedak juga berarti peningkatan manuverabilitas dan oleh karenanya kemampuan ofensif.

Terlebih lagi, globalisasi menimbulkan berbagai paradox. Ketika lalulintas investasi, komoditi, dan modal merupakan gejala kapitalisme global yang menembus batas-batas antarnegara, parokialisme justru menguat di berbagai belahan bumi. Gaung retrogresi Taliban Afghanistan di negara-negara Asia
Tengah hanyalah contoh paling kontemporer yang dapat disebut untuk menunjukkan betapa agama, dan mungkin juga nilai-nilai parokial yang lain seperti etnisitas, merupakan dimensi yang seharusnya dipertimbangkan dalam pembentukan negara (statecraft). Melalui revolusi teknologi informasi dan komunikasi, parokialisme itu sendiri kini menjadi semacam kekuatan global. Persistensi separatis Irlandia dan Tami1, radikalisasi Hammas dan Yahudi Orthodox di Timur Tengah serta militansi pemberontakan petani Chiapas di Mexico Selatan, eksplosi gerakan mahasiswa di Seoul dan Bangkok dengan mudah dapat menimbulkan demonstration effect di tempat-tempat lain. Otoritas pemerintah dan institusi negara semakin terancam. State-building dan nation-building menghadapi tantangan yang semakin serius, dan defisit keamanan (security deficit), yaitu selisih antara kemampuan nasional untuk menegakkan legitimasi dan otoritas dengan penetrabilitas ancaman.

Postulat pertama adalah bahwa tuntutan atas keamanan komprehensif (comprehensive security), telah menambah komplikasi baru dalam nexus keamanan internal-external. Keamanan adalah bebas dari berbagai bentuk bahaya, kecemasan, dan ketakutan, termasuk bebas dari kemungkinan perang (perdamaian negatif) maupun dari ketimpangan struktural dan berbagai bentuk ketidakadilan lainnya (perdamaian positif). Solusi bagi persoalan ganda yang bersumber pada aras konseptual dan dimensional itu tidak akan pernah dapat diselesaikan tanpa lebih dulu membatasi diri mengenai apa yang harus dibicarakan. Membahas dan memahami keamanan dari sudut menyeluruh (comprehensive) tentu sangat bermanfaat untuk memahami kompleksitas masalah, tetapi seka1igus juga mencampuradukkan berbagai solusi terhadap masalah itu. Selain itu the level of threat dimensi-dimensi itu tidak selalu harus sama. Hampir tidak mungkin menggunakan konsep yang terlalu elastik itu sebagai alat analitikal. Tanpa bermaksud mengurangi arti penting pembahasan yang menekankan pada society-centric model, ketika keamanan individual dan communal menjadi faktor dalam kalkulus keamanan, keamanan nasional tetap dapat didefinsikan secara state-centric, dengan negara sebagai unit politik yang pa1ing penting.

Security Deficit, Threat Assessment and Vulnerability
Seperti terlihat dari penggal “ancaman terhadap keamanan”, keamanan dan ancaman merupakan dua konsep interaktif. Terdapat hubungan terbalik antara keduanya, bahwa meningkatnya ancaman dengan sendirinya menurunkan derajat keamanan. Selain itu hendaknya dipahami bahwa yang paling penting adalah “deficit keamanan” (security deficit), yaitu situasi dimana ancaman terhadap keamanan lebih besar dari kemampuan nasional untuk menghadapi ancaman itu. Kemampuan nasional (nationa1 capability) adalah selisih antara, derajat ancaman dan derajat kerawanan. Kerawanan mempunyai dua dimensi, dimensi eksternal adalah ancaman dan dimensi internal adalah ketahanan. Resilience (ketahanan) mencoba mengaitkan keduanya. Suatu perkiraan ancaman yang rasional akan menggunakan konsep defisit keamanan itu dengan memperhitungkan faktor subyektif dan obyektif.

Postulat kedua adalah bahwa, sekalipun keamanan bersifat komprehensif, namun ada unsur tertentu yang lebih relevan untuk dipersoalkan sebagai perkiraan ancaman. Harus dibedakan antara ancaman langsung dan tidak langsung baik yang berasal dari dalam maupun luar, serta antara ancaman inferensial. Dikotomi langsung-tidaklangsung berkaitan dengan dampak sumber ancaman terhadap dimensi ancaman, sedang dikotomi inferensial bisa terhadap dimensi yang lain. Sebagai contoh adalah ancaman militer terhadap keamanan militer, dan oleh karenanya dimensi pertahanan negara. Ancaman ekonomi terhadap keamanan ekonmi termasuk dalam kategori ini pula. Namun ancaman ekonomi terhadap dimensi pertahanan negara, misalnya, hanya bersifat inferensial.

Security deficit, sebagai selisih antara kemampuan nasional dan penetrabilitas ancaman. Tiga kekuatan besar yang mempengaruhi asessment ini adalah globalisasi, perkembangan teknologi, dan interdependensi. Implikasi globalisasi terhadap keamanan menjadi sedikit jelas jika security ditafsirkan sebagai situasi di mana aktor mampu melindungi segala sesuatu yang menjadi preferensi dan otoritasnya serta mempunyai kemampuan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu sesuai dengan preferensinya dalam mencapai apa yang dianggapnya sebagai core interest: system preservation dan maintenance. Da1am praktek, hal ini mewujudkan dirinya dalam beberapa bentuk, mulai dari melindungi otoritas (teritorial dan politik), sampai meningkatkan peran internasional. Namun kedau1atan menjadi semakin absurd; dan apa yang selama ini dirumuskan sebagai “keamanan nasional” menurut konsep Westphalian, dengan kedaulatan atas wilayah geografis sebagai unit politik utama, menghadapi tantangan sangat serius.

Barry Buzan mencoba menawarkan dua kriteria pokok, yaitu landasan fisik dan landasan institusional. Menurut Buzan, physical based of the state meliputi penduduk dan wilayah serta segenap sumberdaya yang terletak di dalam lingkup otoritas teritorialnya; institutional based of the state meliputi semua mekanisme kenegaraan, termasuk lembaga legislatif dan eksekutif maupun ketentuan hukum, prosedur dan norma kenegaraan. Keamanan nasional identik dengan “keamanan negara” yang kemudian ditafsirkan sebagai kepemimpinan politik serta segenap pranata penopang kehidupan bernegara (landasan ideologi negara, konstitusi dan lembaga-lembaga tinggi negara).

Bisa dimengerti jika source of threat bisa internal, eksternal atau azymutal. Namun ada instrumen yang efektif untuk menghadapi satu sumber ancaman belum tentu efektif untuk menghadapi ancaman yang berasal dari sumber yang lain. Masalah-masalah internal sepantasnya dihadapi bukan dengan kekuatan senjata, tetapi dengan pembangunan ekonomi, rekayasa kultural, institusionalisasi partisipasi politik, dan pencarian ideologi baru yang melintasi batas-batas aliran parokialisme. Perangkat-perangkat lunak keamanan (security software) seperti ini merupakan instrumen pokok untuk legitimasi politik dan kohesi sosial. Elemen demokrasi, dalam aras ekonomi, politik maupun kultural, harus menjadi sandaran pokok upaya seperti itu. Tujuan utama adalah untuk menciptakan keadilan.

Sumber ancaman (source of threat) terhadap apa yang selama ini dikenal sebagai “keamanan nasional” menjadi semakin luas, bukan hanya meliputi ancaman dari dalam (internal threat) dan/ atau luar (external threat) tetapi juga ancaman azymutal yang bersifat global tanpa bisa dikategorikan sebagai ancaman luar atau dalam. Seirama dengan itu, watak ancaman (nature of threat) juga berubah menjadi multidimensional. Ancaman menjadi semakin majemuk, dan tidak bisa semata-mata dibatasi sebagai ancaman militer. Ideologi, politik, ekonomi dan kultural merupakan dimensi yang tetap relevan diperbincangkan.

Kepemimpinan politik mempunyai kewajiban yang besar untuk menjaga keseimbangan antara tuntutan globalisasi kejadian lokal (globalizing local dynamics) dan lokalisasi peristiwa global (localizing global dynamics). Interdependensi kehidupan antar negara telah menyebabkan keputusan nasional tidak dapat mengabaikan situasi eksternal. Salah satu contoh adalah berkembangnya gagasan tentang “domestic intervention”, yang kemudian mengalami eufimisme dengan istilah intervensi konstruktif (constructive intervention) atau “perluasan hubungan” (enhanced interaction), dan berbagai persyaratan politik yang menyertai sebagian besar paket bantuan bilateral maupun multilateral ke negara-negara berkembang. Ruanglingkup kedaulatan menjadi semakin terbatas. Dan di dalam lingkup yang semakin sempit itu, seringkali masih terdapat wilayah yang non-defendable terhadap penetrasi ancaman.

Persoalan lebih penting dari identifikasi ancaman adalah memperkirakan “derajat ancaman” (the degree of threat). Rea1isme dalam perkiraan ancaman itu beranjak dan konsepsi bahwa derajat ancaman adalah deficit antara penetrabilitas (magmtude dan intensity) ancaman dengan kapabilitas (vulnerabilitas dan capability) negara. Kemampuan untuk menghadapi semua itu bukan hanya bertolak dari kemampuan militer, tetapi juga kemampuan element of national power yang lain, termasuk kekuatan organisasional (efektifitas komando dan postur pertahanan). Organisasi dan manajemen serta rantai komando dan akuntabilitas, dan oleh karena itu kewenangan yang jelas antar satuan-satuan keamanan. Harus membedakan dengan jelas tujuan emansipatorik yang terutama dilakukan dalam konteks otoritas teritorial negara bangsa dari tujuan survival against immediate threat yang lebih banyak berkaitan dengan ancaman luar.

Harus dibedakan dengan jelas antara “pertahanan” (defense) dan “keamanan” (security). Segenap aparat pemerintahan (kabinet) bertanggungjawab untuk keamanan; sedangkan militer bertangunggungjawab untuk merumuskan segala sesuatu yang berkaitan dengan operasi dan taktik pertahanan. Harus didefinsikan dalam konteks vulnerabilitas terhadap internal maupuneksternal yang mengancam atau memiliki potensi untuk memperlemah struktur (teritorial dan institusional) negara dan government regime. Komponen lain, baik ekonomi, ekologikal atau yang lain, hanya akan menjadi bagian integral dari keamanan jika mereka menjadi cukup akut dan terkristalisasi menjadi dimensi politik dan mengancam tapalbatas, institusi negara maupun pemerintahan.

Kekuatan militer adalah satu-satunya unsur di mana prinsip penangkalan dan pertahanan dapat digunakan dengan cermat. Penangkalan militer: kemampuan militer (organisasional dan hardware) untuk menangkal berbagai spektrum ancaman militer pihak luar yang mengancam keutuhan teritorial. Instrumen untuk itu adalah diplomasi untuk membangun sistem kerjasama keamanan yang appropriate dan usaha unilateral untuk melakukan adaptasi doktrinal dan modernisasi kekuatan militer. Strategi: ofensif (mendahului) dan defensif (menyerap kekuatan lawan). Hampir tidak mungkin menggunakan kekuatan kekerasan untuk mempertahankan diri dari gempuran sosial, kultural dan ekonomi dari luar. Maksimal yang dapat dilakukan adalah melindungi potensi ekonomi dan teritori kultural serta sosial. Elemen pokok , tetap wilayah.

National Security. Defense and Defense Dilemma
Perkembangan teknologi, interdependensi merupakan dua gejala utama yang menyebabkan dilema keamanan ini menjadi semakin mungkin harus dihadapi oleh negara-negara yang merancang untuk mengembangkan kemampuan militemya. Defense planning, khususnya sejauh menyangkut doktrin perang dan strategi tempur, harus memperhatikan prinsip bahwa kekuatan militer harus melindungi ancaman terhadap keamanan nasional yang, berasal dari unfair threat of force. Memang, sejarah mencatat berbagai peristiwa ketika kekuatan militer digunakan untuk melindungi keamanan ideologi, politik, ekonomi dan kultural dari ancaman kekerasan. Pertempuran antara pasukan Yunani Kuno menghadapi pasukan Persia di medan laga Marathon dan Salamis, orang-orang Prancis dan pasukan Moslem di France at Tours (tahun 732), pengepungan kota Vienna oleh pasukan Ottoman (tahun 1683), maupun tumbangnya Fascisme Eropa dalam Perang Dunia Kedua. Namun semua itu berlangsung dalam konteks ketika negara adalah suatu self-contained and self-reliant entity dalam elemen-elemen politik, ekonomi, kultural; dan ketika tujuan penggunaan kekerasan, termasuk kekuatan militer, adalah mempertahankan otoritas domestik dari gangguan atau serangan luar.

Kita menghadapi soal serius. Di satu pihak, keamanan nasional menghadapi berbagai spektrum ancaman. Di lain pihak, militer hanya merupakan salah satu kekuatan nasional, yang bersama dengan kemampuan lain membentuk kemampuan nasional (national capability). Pemikiran yang tepat, peyusunan konfigurasi yang tepat merupakan tantangan pokok. Hierarki dan prioritasi ancaman oleh karenanya menjadi penting. Dikotomi eksternal-internal tetap relevan dipertahankan. Tanpa bermaksud mengurangi makna ancaman internal, yang seperti dikemukakan pada bagian lain tulisan ini lebih sesuai dihadapi dengan prinsip-prinsip emansipasi demokratik, ancaman luar harus menjadi pijakan utama. Tentu, bersama dengan itu harus diakui pula bahwa kemenyeluruhan (comprehensiveness) senantiasa diperhitungkan dalam penyusunan prioritas.

The level of threat, misalnya, kemudian menjadi elemen pokok dalam perencanaan. Ancaman militer dapat muncul dalam berbagai bentuk. Bentuk yang pa1ing ekstrim adalah serangan dan pendudukan, baik dengan tujuan untuk memusnahkan suatu negara, untuk merebut atau menguasai wilayah (perang Prancis-Jerman tahun 1870), maupun mengubah institusi kenegaraan (seperti dilakukan sekutu pada Perang Dunia II terhadap Jerman dan Jepang). Bentuk yang lebih moderat bisa disebabkan oleh keinginan untuk menghukum (punishment), tanpa pendudukan dalam jangka waktu relatif lama, seperti dilakukan Cina terhadap Vietnam pada awal tahun 1979. Di luar kedua bentuk itu masih dapat dilihat bentuk-bentuk ancaman militer terhadap wilayahnegara, seperti non-recognition atau menutup akses. Kekuatan 1aut pada umumnya sangat memainkan peranan penting pada dua kategori terakhir ini.

Seperti halnya ancaman militer, ancaman ideologi dan atau politik dapat muncul dalam berbagai bentuk. Suatu negara mungkin menghadapi ancaman politik dalam bentuk tekanan tertentu untuk mengubah tujuan, bentuk atau struktur institusi-institusi politiknya. Dalam bentuk yang paling ekstrim, ancaman politik ini terutama terjadi jika terdapat perbedaan organizing principle antar negara yang antagonistik. Apa yang dilakukan oleh Libya dan Suriah terhadap beberapa pemerintahan moderat di Timur Tengah (Libanon,Yordan) dan Amerika terhadap rejim-rejim radikal di Amerika Latin dan Karibia (Kuba, Chile, Guatemala, Haiti). Dalam bentuk yang lebih lunak, persyaratan politik yang menyertai segenap bantuan bilateral dan multilateral, mungkin dapat dikategorikan sebagai ancaman politik. Setelah berakhirnya persaingan ideologi kapitalisme-sosialisme, dan ketika ekonomi pasar semakin diterima sebagai menjadi organizing principle, potensi persaingan sistemik di Asia Pasifik kelihatannya tinggal kedua Korea yang masih memenuhi kriteria ini.

Ancaman luar yang tidak kalah penting adalah ancaman ekonomi. Namun berlainan dengan ancaman politik dan militer dari luar, ancaman luar-ekonomi ini agak sukar didefinisikan dengan jelas. Negara hanya merupakan salah satu aktor, yang semakin menurun, dalam kegiatan ekonomi nasional. Kompetisi, dan oleh karenanya juga konflik, memang merupakan sesuatu yang inheren dan natural dalam berbagai aktifitas ekonomi. Selain itu, beberapa gejala kontemporer lebih menyerupai dinamika ekonomi normal daripada benar-benar merupakan ancaman dalam pengertian yang tradisional, baik untuk menguasai wilayah maupun untuk mengubah institusi-institusi negara. Tidak mungkin bisa dijawab dengan memuaskan apakah krisis ekonomi merupakan konspirasi untuk menghancurkan negara Indonesia, atau semata-mata merupakan konsekuensi yang tidak dapat dielakkan dari dinamika ekonomi kontemporer dan penataan ekonomi Inaonesia yang rapuh.

Ekonomi jelas merupakan masalah keamanan nasional yang sangat penting dan mempengaruhi domestic stability, khususnya bagi negara-negara yang kehidupan ekonominya tergantung pada pasokan import bahan baku dan energi,dan/atau perdagangan. Sekalipun demikian, sukar untuk mengatakan bahwa ancaman terhadap keamanan nasional ini mempunyai implikasi langsung dengan kelangsungan hidup negara. Embargo, pembatasan ekspor, manipulasi harga, penghentian hutang mungkin saja untuk jangka pendek menimbulkan dislokasi sosial, tetapi untuk jangka panjang mungkin membawa konsekuensi positif bagi perkembangan ekonomi yang lebih baik. Selain itu, ancaman ekonomi luar-bersifat ambiguous, serta tidak memenuhi kriteria cross-boundary, dan pada saat yang sama juga tidak memenuhi kriteria penggunaan kekerasaan. Ancaman ekonomi mungkin baru bisa mempunyai implikasi militer, misalnya jika loss of material itu pada akhirnya akan menyebabkan menyusutnya anggaran atau menutup pasokan logistik yang diperlukan untuk pengembangan atau operasi militer.

Kajian keamanan mengenal dua istilah penting, dilemma keamanan (security dilemma) dan dilemma pertahanan (defence di1emma). Istilah yang pertama, dilema keamanan, menggambarkan betapa upaya suatu negara untuk meningkatkan keamanannya dengan mempersenjatai diri justru, dalam suasana anarki internasional, membuatnya semakin rawan terhadap kemungkinan serangan pertama pihak lain. Istilah kedua, dilema pertahanan, menggambarkan betapa pengembangan dan penggelaran senjata baru maupun aplikasi doktrinal nasional mungkin saja justru tidak produktif atau bahkan bertentangan dengan tujuannya untuk melindungi keamanan nasional. Berbeda dari dilema keamanan yang bersifat interaktif dengan apa yang [mungkin] dilakukan pihak lain, dilema pertahanan semata-mata bersifat non-interaktif, dan hanya terjadi dalam lingkup nasional, terlepas dari apa yang mungkin dilakukan pihak lain.

Dilema pertahanan dapat muncul dalam berbagai bentuk. Pertama adalah hilangnya relevansi kekuatan senjata untuk mencapai tujuan nasional tertentu. Dalam situasi meningkatnya interdependensi, misalnya, suatu negara cenderung untuk menahan diri menggunakan senjata karena hal itu, jika dilakukannya, akan harus membayar mahal, misalnya berupa isolasi internasional. Perdagangan dan investasi mungkin merupakan sesuatu yang vital bagi keamanan nasional suatu negara. Namun hampir tidak mungkin membayangkan suatu negara melakukan tindakan kekerasan (baca: millter) untuk, misalnya meningkatkan ekspor. Globalisasi dan diseminasi ide-ide baru bisa jadi “membahayakan” nilai dasar tertentu yang diakui sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, seperti halnya dalam kasus ekonomi, tindakan kekerasan bukan merupakan cara yang relevan untuk menghadapi gelombang globalisasi.

Kedua, dilema pertahanan juga bisa terjadi jika senjata perkembangan di bidang teknologi modern menjadikan strategi ofensif jauh lebih menguntungkan dibanding strategi defensif. Munculnya jenis-jenis persenjataan modern, seperti pesawat pembom jarakjauh, pesawat stealth, miniaturisasi hululedak, dan teknik pengendalian rudal adalah beberapa contoh dalam kategori ini. Senjata-senjata seperti itu dapat sangat efektif, dan seringkali dapat memiliki daya musnah luarbiasa tanpa harus mengalahkan lawan. Senjata-senjata seperti ini bukan hanya memaksa pemiliknya melakukan serangan pertama, tetapi juga menjadikan sistem pertahanan tradisional yang dirancang untuk perang konvensional tidak lagi efektif. Keamanan nasional, oleh karenanya, memerlukan adaptabilitas yang tinggi dalam bidang doktrin maupun pengembangan sistem persenjataan.

Bentuk ketiga dari dilema pertahanan dapat terjadi jika penggunaan senjata didasarkan pada pemikiran yang tidak konsisten, atau malahan bertentangan, dengan upaya untuk melindungi keamanan nasional. Dilema ini dapat berupa kehancuran ekonomi, ataupun dislokasi sosial dan politik, yang ditimbulkan oleh mobilisasi sumberdaya di luar kemampuan dan kebutuhan nasional. Ia dapat pula berupa kehancuran tanpa batas. Doktrin kehancuran bersama (mutual assured destruction), misalnya, menunjukkan betapa upaya mencegah perang justru dilakukan dengan ancaman menimbulkan korban yang luarbiasa besar di pihak lawan, yang secara moral bertentangan dengan upaya untuk melindungi species manusia. Dilema pertahanan dalam jenis ini terutama timbul karena perkembangan teknologi canggih tidak mustahil dapat meredusir tujuan militer sedemikian hingga “general threat of destruction”, adalah satu-satunya logika untuk melindungi keamanan nasional.

Redifinisi Doktrin, Pembagian Wewenang dan Strategi Pertahanan
Threat, survival dan defence dilemma itu membawa implikasi serius. Pesan yang hendaknya digarisbawahi adalah penggunaan eksesif dari resources tidak boleh. Penggunaan kekerasan untuk menghadapi ancaman harus sepadan. Ancaman tertentu harus dihadapi dengan instrumen tertentu yang sesuai, efektif, efisien, dan tidak menimbulkan dislokasi sosial, ekonomi, politik, ideologi. Security deficit yang timbu1 karena vu1nerabilitas membawa kompleksitas tersendiri. Semuanya bermuara pada satu persoalan besar: perlunya kajiulang terhadap doktrin keamanan dan pertahanan nasional, khususnya sejauh menyangkut “apa yang harus dipertahankan”, “bagaimana untuk mempertahankannya”, dan “siapa yang harus memikul tanggungjawab” itu.

Jawaban atas pertanyaan pertama, apa yang harus dipertahankan, memerlukan suatu kesepakatan politik. Pertimbangan historis, geografis, ideologis dan perkembangan politik kontemporer harus dimasukkan dalam kalkulasi itu. Gravitas hubungan antarnegara pada dinamika ekonomi tidak sepenuhnya menghapus relevansi konteks politik geostrategi. Bagi sebuah negara kepulauan, termasuk Indonesia, melindungi keamanan nasional adalah usaha besar untuk melindungi dan mempertahankan kedaulatan maritim berikut sumberdaya yang berada di dalamnya.

Pada tingkat strategi, bagaimana mempertahankan dari ancaman, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana merumuskan ancaman secara lebih realistik. Untuk waktu yang dapat diperhitungkan ke depan, keamanan terhadap ancaman interna1 masih akan mendominasi pemikiran strategis di Indonesia. Pluralisme sosial, ketimpangan ekonomi, disparitas regional menjadikan upaya bina-bangsa dan bina-bangsa menjadi soal serius. Indonesia adalah suatu entitas politik (negara) yang dibangun di atas fondasi pluralitas. Persatuan Indonesia seperti diikrarkan dalam Sumpah Pemuda 1928, selama ini lebih direkat oleh common history anti-kolonia1isme. Common history menghadapi kolonialisme kelihatannya perlu dijelmakan dalam wujud yang lebih konkret, misalnya common platform dan komitmen untuk menegakkan keadilan sosia1, dan dengan menggunakan instrumen yang lebih appropriate seperti ketentuan hukum yang demokratik.

Di tengah keharusan untuk mempersiapkan diri terhadap keamanan internal, ancaman militer dari luar merupakan sesuatu yang harus selalu diperhitungkan, sekalipun pada saat yang sama harus diakui pula bahwa untuk beberapa tahun yang dapat diperhitungkan ke depan sukar dibayangkan terjadinya perang dalam pengertian tradisional. Menduduki wilayah asing (occupation) menjadi sesuatu yang secara moral memperoleh gugatan semakin tajam dan secara ekonomis semakin mahal. Konflik bersenjata, jika harus terjadi, kemungkinan besar akan bersifat terbatas, berlangsung dalam waktu singkat, dan menggunakan teknologi tinggi. Amerika Serikat diperkirakan tetap memainkan peranan penting di kawasan Asia Pasifik, baik karena potensi ketidakstabilan di semenanjung Korea, hubungan tradisionalnya dengan Jepang dan Korea Selatan, kekhawatirannya terhadap tampilnya Cina sebagai kekuatan hegemon regional, maupun karena kepentingan ekonominya di kawasan ini. Ancaman militer dari luar terhadap Indonesia kelihatannya akan bersifat ancaman tidak langsung yang terjadi karena ketidakstabiIan regional. Termasuk dalam kategori ini adalah perlombaan senjata yang dapat terjadi karena ketidakstabilan di Semenanjung Korea dan Asia Timur, prospek penyelesaian masalah Taiwan, dan kemungkinan konf1ik tapalbatas.

Masalah pokok, seperti dirumuskan sebagai pertanyaan ketiga, adalah apa cara yang paling efektif dan efisien untuk menghadapi sumber dan watak ancaman-ancaman tertentu. Ancaman internal harus diketahui dengan pasti alasan timbulnya. Gagasan-gagasan, termasuk komunisme dan fundamentalisme religius, tidak pernah secara langsung mempengaruhi tindakan [kekerasan] politik. Menghilangkan deprivasi ekonomi, politik dan kultural. Demokratisasi dalam penggunaan dan pengelolaan sumberdaya, dan distribusi pembangunan. Penghormatan pada budaya lokal. Bhineka Tunggal Ika adalah semboyan yang seharusnya ditafsirkan sebagai komitmen untuk menghormati keragaman, bukan untuk menciptakan keseragaman. Upaya nasional, unilateral, adalah demokratisasi. Pengenda1ian dan resolusi konflik seharusnya semata-mata dilakukan sebagai tindakan polisionil.

Sejauh menyangkut ancaman militer dari luar, tidak diragukan bahwa peningkatan kemampuan militer (modernisasi dan profesionalisasi) merupakan sa1ah satu pilihan. Namun, selain karena pertimbangan ekonomi, peningkatan kekuatan militer selalu mengundang kecurigaan pihak 1ain, terutama jika hal itu dilakukan dengan lebih banyak memberikan prioritas pada modernisasi senjata-senjata ofensif. Dalam suasana anarki dan ketidakpastian, upaya unilateral bisa menimbulkan dilema keamanan (security dilemma) terutama jika upaya unilateral itu berupa penggelaran jenis senjata- senjata ofensif baru. Pengembangan kekuatan militer yang mengarah pada non-provocative defense merupakan salah satu pilihan strategis. Selain itu, di tengah gelombang interdependensi dalam kehidupan antarbangsa, suatu negara tidak bisa mengamankan dirinya dengan mengancam orang lain. Upaya untuk membangun keamanan, oleh karenanya, bergeser dari konsep “security against” menjadi “security with”. Apa yang selama ini dikenal sebagai cooperative security, confidence building measures, dan preventive diplomacy yang dilakukan secara bilateral, regiona1, global, maupun multilateral adalah sebagian dari berbagai upaya menjawab persoalan ini.

kesimpulan:
Demokrasi adalah suatu sistem yang bertumpu pada pembagian kekuasaaan (sharing of power) dan/atau pembagian tanggungjawab (sharing of responsibility). Persoalan siapa yang harus bertanggungjawab untuk menjawab ancaman keamanan tertentu menjadi rumit dan politikal: rumit, karena perkembangan konsep dan ketidapastian setelah berakhirnya Perang Dingin dan politikal, karena landasan konstitusiona1, sejarah, maupun realita politik bisa menjadi kekuatan inersia untuk membangun pola pembagian kerja baru. Salah satu konsekuensi penting adalah perlunya ketentuan yang mengatur level of engagement dan instrumen yang boleh digunakan dalam setiap bagian dari spektrum ancaman terhadap keamanan nasional.



Minggu, 07 Maret 2010

TOKOH INSPIRASI


Carey Mulligan

Si Pemalu yang dicalonkan meraih Oscar baru saja menjadi nomine Oscar/Academy Awards untuk kategori Aktris Terbaik 2010. Para kritikus film menyebut aktingnya di film "An Education" sensasional, menakjubkan, dan memancarkan vitalitas. Siapa sangka, aktris muda asal Inggris ini waktu kanak-kanak dikenal sebagai bocah pemalu dan tomboi? Ia bahkan pernah ditolak di tiga sekolah drama! Mulligan lahir London, Inggris, pada 28 Mei 1985. Ia, yang menghabiskan delapan tahun masa kanak-kanaknya di Jerman, mulai tertarik pada dunia akting saat berusia 6 tahun.

Pada waktu itu, ia menyaksikan kakak laki-lakinya, Owain, tampil di panggung drama sekolah, mementaskan The King and I. Hasratnya berkarir di dunia seni peran semakin membara saat remaja. "Aku suka akting karena tantangannya," demikian ujar penggemar olahraga ski ini.

Mulligan mendapat tantangan itu, sejak awal karirnya. Ia tidak diterima di sekolah-sekolah drama yang diinginkannya. Orangtua pun tidak mendukungnya. Bagi mereka, lebih baik putri tersayangnya belajar di universitas, ketimbang masuk sekolah drama.

Untungnya, tamatan International School Dusseldorf ini, tidak mau menyerah begitu saja. Ia tetap teguh pada hasrat dan cita-citanya. Dan akhirnya, kesempatan tiba untuknya. Ia membuat debut akting sebagai Kitty Bennet dalam film Pride & Prejudice (2005). Selanjutnya, ia merambah dunia layar kaca dan teater.

Kemampuan akting Mulligan mendapat pengakuan luas dari kalangan profesional ketika berperan sebagai Jenny Miller, seorang remaja yang hidup di pinggiran kota London, Inggris, di film An Education (2009). Dikisahkan, siswi sekolah menengah ini adalah remaja yang cerdas, aktraktif, dan berhasrat untuk segera memulai kehidupan sebagai orang dewasa. Ia juga menjalin hubungan dengan seorang pria karismatik, yang usianya lebih tua.

Nah, Mulligan dinilai banyak pihak berhasil memerankan Jenny dengan amat baik! Tidak heran, selain dinominasikan sebagai "Aktris Terbaik" di ajang sekelas Oscar, Golden Globe, dan Critics Choice award, Mulligan juga mendapatkan penghargaan pada kategori yang sama di berbagai perhelatan yang diadakan asosiasi kritikus film.


Penasaran ingin melihat akting Mulligan selanjutnya? Simak dua filmnya yang akan beredar pada tahun ini: Never Let You Go dan Wall Street: Money Never Sleeps. Nantikan juga kabar, apakah Mulligan akan menerima tawaran peran sebagai Eliza Doolittle, pada film My Fair Lady versi terbaru. Film ini pernah populer pada tahun 1964. Saat itu, pemeran Eliza adalah aktris legendaris Audrey Hepburn.

FUNGSI ORGANISASI

FUNGSI ORGANISASI


Banyaknya partai pada Pemilu 2009 membuat bingung para pemilih bahkan diperkirakan akan banyak warga NKRI ini yang tidak memilih (GOLPUT). Mereka paham atau tidak tentang politik tapi mereka harus tahu tentang organisasi dan pengawakannya. Dengan mengetahui tentang organisasi, diharapkan mereka dapat memilih partai yang berkompeten dan berkualitas. Partai yang berkompeten dan berkualitas pasti memikirkan pengawakan organisasinya. Hal ini dapat diketahui melalui visi, misi dan strategi yang telah ditetapkan oleh organisasi tersebut.
Bagaimana cara menganalisanya ?

Setiap organisasi terutama yang besar, secara makro akan menangani tiga fungsi Pokok, yaitu : (1) fungsi perumusan strategi organisasi (corporate strategy) yang lebih bersifat kebijakan, (2) fungsi perumusan strategi alokasi sumber daya (resources allocation strategy) yang cenderung lebih bersifat taktikal, dan (3) fungsi pelaksanaan kegiatan merupakan proses mewujudkan tujuan organisasi (operasional organisasi) yang cenderung lebih bersifat operasional.

Fungsi perumusan strategi organisasi sering juga digunakan istilah “grand strategy”, termasuk diantaranya adalah perumusan visi, misi, tujuan (objective), kebijakan (policy), dan strategi, serta perencanaan tentang bagaimana pengorganisasian (organization planning) seluruh kegiatan dalam menjalankan strategi tersebut. Organization planning memberikan arah kepada setiap awak organisasi, kemana organisasi akan dibawa ke masa yang akan datang.

Ditinjau secara hirarki, fungsi ini berada pada tingkatan tertinggi. prosesnya memerlukan pemahaman yang mendalam serta analisis yang cermat dan cerdas tentang berbagai perkembangan kondisi lingkungan strategik, seperti perkembangan teknologi, ekonomi sosial budaya, politik, bahkan bagi beberapa organisasi diperlukan kajian tentang sejarah masa lalu. Permasalahan yang dihadapi sangat kompleks dan dinamis, sehingga penuh ketidakpastian, namun harus dapat dikenali secara cerdas untuk mengurangi tingkat ketidakpastian tadi. Untuk itu diperlukan personil yang memiliki daya abstraksi kuat, kemampuan yang solid dalam melakukan analisis terhadap perkembangan lingkungan strategik, serta melakukan sintesa terhadap perkembangan iptek. Tujuan utama dari penyelengaraan ini adalah tercapainya tujuan secara efektif.

Fungsi perumusan strategi alokasi sumber daya diselenggarakan dengan melakukan berbagai kegiatan yang menjembatani antara tingkatan strategik yang cenderung bersifat “abstrak”, dengan tindakan operasional yang bersifat lebih fisikal. Kegiatan tersebut antara lain pengembangan organisasi, perumusan sasaran yang konkret dan terukur, program-program untuk mencapai sasaran, serta menetapkan jumlah sumberdaya yang harus dikerahkan untuk mendukung setiap program guna mencapai sasaran-sasaran yang ditetapkan. Dalam berbagai literature, khususnya metode dan sistem yang digunakan dalam penyelengaraan fungsi ini, lebih dikenal dengan PPBS (Planning, Programing, and Budgeting System). Tujuan utama digunakan PPBS adalah untuk dapat mencapai Tujuan organisasi secara optimal (efisien dan efektif)

Pemahaman terhadap perkembangan lingkungan strategik serta kondisi internal organisasi sangat diperlukan dalam menjalin fungsi ini. Oleh karena itu, kondisi lingkungan yang dihadapi Sebagian bersifat kurang pasti, Sebagian lagi bersifat lebih pasti, sehingga dapat dikalkulasi tingkat probabilitas kejadiannya. Oleh karena itu kapasitas kemampuan personil yang dibutuhkan adalah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang solid dalam merumuskan sasaran strategis organisasi, Rencana implementasinya dalam bentuk program beserta prioritasnya, serta memperoleh dan mengalokasi sumberdaya pada setiap program agar sasaran tercapai efektif dan efisien.

Fungsi pelaksanaan kegiatan merupakan tingkatan terbawah dari proses manajemen dalam suatu organisasi, tetapi justru merupakan bagian terdepan. Fungsi inilah yang pelaksanaanya merumuskan sasaran sesuai bidangnya. Rumusan ini sebagai masukkan bagi proses penyelengaraan fungsi pada tingkat strategis dan taktikal dan mewujudkan sasaran-sasaran berdasarkan program dan Anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Kondisi lingkungan yang dihadapi lebih cenderung bersifat pasti dan fisikal. Tujuan utamanya adalah efisiensi pengunaan sumberdaya, baik dengan cara “minimizing cost” dalam upaya mencapai target tertentu, atau “minimizing output” dalam memanfaatkan sumberdaya yang telah tersedia.

Dapat dipahami jika untuk melaksanakan fungsi ini, para personil dituntut memiliki pemahaman dan mampu mengaplikasikan berbagai pengetahuan serta metode efisiensi, antara lain ekonomi dan riset operasi, disamping pengetahuan spesifik sesuai bidangnya jika organisasi menginginkan kinerja yang tinggi. Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi (TI), pemanfaatan peralatan komputer dan komunikasi sebagai sarana bantu dalam melaksanakan pekerjaan bagi awak organisasi pada tingkat ini, kemampuan ini akan sangat berperan dalam menunjang keberhasilan tugas. Organisasi yang didasari knowledge menuntut setiap awak organisasi untuk akrab dengan teknologi terutama TI.

Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana menciptakan awak organisasi yang demikian kemampuannya. Untuk memenuhi kebutuhan pengawakan bagi tiap tingkatan fungsi organisasi, harus dilakukan pembelajaran atau “learning”. Organisasi modern masa kini dikembangkan agar memiliki budaya “learning organization”. Proses pembelajarannya dapat bersifat informal maupun nonformal. Tanpa proses pendidikan formal, profesionalisme seseorang akan tetap semakin meningkat (bila diukur dari tingkat produktivitasnya) sejalan dengan pengalaman ia bekerja. Sedangkan, meningkatkan profesionalisme melalui pendidikan formal, lebih signifikan

Kamis, 04 Maret 2010

opini tentang SAP universitas gunadarma

SAP (Satuan Acara Perkuliahan)

SAP adalah sebuah tampilan web yang berisi tentang materi-materi yang di berikan pihak kampus kepada dosen untuk kemudian diberikan kepada mahasiswa.SAP hanya berisi kumpulan materi dan tujuan serta memberikan acuan kepada mahasiswa untuk belajar.Setiap mata kuliah memiliki (SAP) yang merupakan penjabaran secara rinci rencana perkuliahan.
Menurut saya,SAP ini sangat penting kegunaannya dan sangat dibutuhkan oleh mahasiswa,mulai dari segi fungsi dan tujuannya.

opini virtual class universitas gunadarma

Virtual class

Virtual class adalah sebuah tampilan web yang berisi tentang materi,soal,diskusi bagi mahasiswa yang bersangkutang untuk mengerjakan soal yang dan materi yang sudah di sediakan oleh dosen bersangkutan sebagai pengganti pertemuan di kelas tersebut.Mahasiswa sangat di wajibkan untuk mengikuti vitual class ini.Selain itu,didalam virtual class ini,mahasiswa dapat berdiskusi dengan dosen bersangkutan apabila mahasiswa tersebut masih belum mengerti meteri yang di berikan oleh dosen,tetapi menurut pendapat saya virtual class ini kurang maksimal, karena tidak secara langsung dapat berdiskusi oleh dosen.

Rabu, 03 Maret 2010

Opini Tentang Studensite Gunadarma


Dari apa yang saya lihat dalam system virtual locker universitas Gunadarma,saya akan memberikan pendapat sbg berikut:

Dalam homepage studensite,terdapat banyak pilihan menu yang bisa di gunakan oleh mahasiswa,antara lain:

  1. BAAK NEWS
  2. KALENDER AKADEMIK
  3. FORUM
  4. BLOG KUMINTAS
  5. DLL
Mahasiswa di sarankan untuk mencari-cari informasi seputar kampus.Informasi pun sangat penting di berikan oleh pihak kampus sebagai salah satu kewajibannya.Jadi menurut saya studendite sangat efektif dan efisien dalam hal memberikan setiap kebutuhan mahasiswa,untuk itu stdunsite harus digunakan semaksimal mungkin.Tapi terkadang studendite tidak bisa digunakan (eror) dan itu harus diperhatikan


Rabu, 24 Februari 2010

DASAR PEMROSESAN KOMPUTER













Dasar-dasar pemprosesan komputer


Suatu sistem komputer terdiri dari lima unit struktur dasar, yaitu:
  • Unit masukan (Input Unit)
  • Unit kontrol (Control Unit)
  • Unit logika dan aritmatika (Arithmetic & Logical Unit / ALU)
  • Unit memori/penyimpanan (Memory / Storage Unit)
  • Unit keluaran (Output Unit)
Control Unit dan ALU membentuk suatu unit tersendiri yang disebut Central Processing Unit (CPU). Hubungan antar masing-masing unit yang membentuk suatu sistem komputer Data diterima melalui Input Device dan dikirim ke Memory. Di dalam Memory data disimpan dan selanjutnya diproses di ALU. Hasil proses disimpan kembali ke Memory sebelum dikeluarkan melalui Output Device. Kendali dan koordinasi terhadap sistem ini dilakukan oleh Control Unit.

Secara ringkas prinsip kerja komputer adalah Input–Proses–Output,yang dikenal dengan singkatanIPO.
Fungsi Utama dari masing-masing Unit akan dijelaskan berikut ini:

Unit Masukan (Input Unit)
Berfungsi untuk menerima masukan (input) kemudian membacanya dan diteruskan ke Memory / penyimpanan. Dalam hubungan ini dikenal istilah peralatan masukan (input device) yaitu alat penerima dan pembaca masukan serta media masukan yaitu perantaranya.

UnitKontrol(ControlUnit)
Berfungsi untuk melaksanakan tugas pengawasan dan pengendalian seluruh sistem komputer. Ia berfungsi seperti pengatur rumah tangga komputer, memutuskan urutan operasi untuk seluruh sistem, membangkitkan dan mengendalikan sinyal-sinyal kontrol untuk menyesuaikan operasi-operasi dan arus data dari bus alamat (address bus) dan bus data (data bus), serta mengendalikan dan menafsirkan sinyal-sinyal kontrol pada bus kontrol (control bus) dari sistem komputer.

Unit Logika & Aritmatika (Arithmetical & Logical Unit)
Berfungsi untuk melaksanakan pekerjaan perhitungan atau aritmatika & logika seperti menambah, mengurangi, mengalikan, membagi dan memangkatkan. Selain itu juga melaksanakan pekerjaan seperti pemindahan data, penyatuan data, pemilihan data, membandingkan data, dll, sehingga ALU merupakan bagian inti dari suatu sistem komputer. Pada beberapa sistem komputer untuk memperingan dan membantu tugas ALU dari CPU ini diberi suatu peralatan tambahan yang disebut coprocessor sehingga khususnya proses perhitungan serta pelaksanaan pekerjaan pada umumnya menjadi lebih cepat.

Unit Memori / Penyimpan (Memory / Storage unit)
Berfungsi untuk menampung data/program yang diterima dari unit masukan sebelum diolah oleh CPU dan juga menerima data setelah diolah oleh CPU yang selanjutnya diteruskan ke unit keluaran. Pada suatu sistem komputer terdapat dua macam memori, yang penamaannya tergantung pada apakah alat tersebut hanya dapat membaca atau dapat membaca dan menulis padanya. Bagian memori yang hanya dapat membaca tanpa bisa menulis padanya disebut ROM (Read Only Memory), sedangkan bagian memori yang dapat melaksanakan membaca dan menulis disebut RAM (Random Access Memory).

• Unit Keluaran (Output Unit)
Berfungsi untuk menerima hasil pengolahan data dari CPU melalui memori. Seperti halnya pada unit masukan maka pada unit keluaran dikenal juga istilah peralatan keluaran (Output device) dan media keluaran (Output media).

Pengertian BUS
Bus adalah sekelompok lintasan sinyal yang digunakan untuk menggerakkan bit-bit informasi dari satu tempat ke tempat lain, dikelompokkan menurut fungsinya Standar bus dari suatu sistem komputer adalah bus alamat (address bus), bus data (data bus) dan bus kontrol (control bus). Komputer menggunakan suatu bus atau saluran bus sebagaimana kendaraan bus yang mengangkut penumpang dari satu tempat ke tempat lain, maka bus komputer mengangkut data. Bus komputer menghubungkan CPU pada RAM dan periferal. Semua komputer menggunakan saluran busnya untuk maksud yang sama.

Pengertian Coprocessor
Coprocessor adalah Mikroprosesor tambahan (auxiliary processor) untuk membantu tugas dari prosesor utama (CPU). Sebenarnya latar belakang adanya coprocessor ini dimaksudkan untuk menutupi kelemahan dalam perhitungan matematika dan aritmatika pada prosesor Intel 8088. Tugas utamanya untuk melaksanakan perhitungan matematika dan aritmatika sehingga tidak menjadi beban prosesor Intel 8088

Pembahasan Pasal 28 UUD 1945

KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang PASAL 28 UUD 1945, yang saya sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber.Makalah ini memuat tentang "PASAL 28 UUD 1945" . Walaupun makalah ini mungkin kurang sempurna tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca.

Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah membantu penyusun agar dapat mengerti tentang bagaimana cara saya menyusun karya tulis ilmiah.



Daftar isi
Kata Pengantar
Isi
Bab 1 pengertian pasal 28
Bab2 isi pasal 28A
Bab3 isi pasal 28B
Bab4 isi pasal 28C
Bab5 isi pasal 28F
Bab6 isi pasal 28G
Bab7 isi pasal 28J
Daftar pustaka



Pasal 28

Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.

HAK ASASI MANUSIA

Pasal 28A

Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.

Pasal 28B

  • Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah.
  • Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Pasal 28C

  • Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.
  • Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya.


Pasal 28F

Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.

Pasal 28G

  • Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.
  • Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain.



Pasal 28J

  • Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
  • Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.

daftar pustaka
http://map-bms.wikipedia.org/wiki/UUD_45

Selasa, 23 Februari 2010

E-COMMERCE




















E-COMMERCE


Electronic Commerce (E-Commerce) didefiniskan sebagai proses pembelian dan penjualan produk,jasa dan informasi yang dilakukan secara elektronik dengan memanfaatkan jaringan komputer.Salah satu jaringan yang digunakan adalah internet.Sementara itu Kalakota dan Whinston mendefinisikan e-commerce dari beberapa perspektif,yaitu
  • dari perspektif kominkasi, e-commerce adalah pengiriman informasi,produk/jasa,atau pembayaran yang dilakukan melalui jaringan telephon atau jalur komunikasi lainnya.
  • dari perspektif proses bisnis, e-commerce adalah aplikasi teknologi menuju otomatisasi transaksi bisnis dan work flow
  • dari perspektif pelayanan, e-commerce adalah alat yang digunakan untuk mengurangi biaya dalam pemesanan dan pengiriman barang
  • dari oerspektif online, e-commerce menyediakan kemampuan untuk menjual dan membeli produk serta informasi melalui internet dan jaringan jasa online lainnya.

Selanjutnya Yuan Gao dalam Encyclopedia of Information Science and Technology(2005) menyatakan e-commerce adalah penggunaan jaringan komputer untuk melakukan komunikasi bisnis e-commerce net, e-commerce didefinisikan sebagai kegiatan menjual barang dagangan atau jasa melalui internet.Seluruh komponen yang terlibat dalam bisnis praktis diaplikasikan disini,seperti komputer service,produk yang tersedia, cara pembayaran, jaminan atas produkyang dijual, cara promosi dsb.

Seluruh definisi yang dijelaskan di atas pada dasarnya memiliki kesamaan yang mencakup komponen transaksi,subjek,dan objek yang terlibat,serta media yang digunakan(dalam hal ini internet).Perkembangan teknologi informasi terutama internet,merupakan faktor pendorong perkembangan e-commerce.Internet merupakan jaringan global yang menyatukan jaringan komputer di seluruh dunia,sehingga memungkinkan terjalinnya komunikasi dan interaksi anatara satu dengan yang lainnya diseluruh dunia.Dengan menghubungka jaringan komputer perusahaan dan internet,peruasahaan dapat menjalin hubungan bisnis dengan rekan bisnis atau komsumen secara lebih efisien.Samapi saat ini internet merupakan infrakstruktur yang ideal untuk menjalankan e-commerce,sehingga istilah e-commerce pun menjadi identik dengan menjalankan bisinis di internet.

Pertukaran informasi dalan e-commerce dilakukan dalam format digital sehingga kebutuhan akan pengiriman data dalam bentuk cetak dapat dihilangkan.Dengan menggunakan sistem komputer yang saling terhubung melalui jaringan telekomunikasi,transaksi bisnis dapat dilakukan secara otomatis dalam waktu yang singkat.Akibatnya informasi yang di inginkan untuk keperluan transaksi bisnis tersedia pada saat diperlukan.Dengan melakukan bisnis secara elektronic perusahaan dapat menekan biaya yang harus dikelurkan untuk keperluan pengiriman informasi.Proses pengiriman informasi yang dilakuakn secara cepat juag mengakibatkan meningkatnya produktifitas perusahaan.Dengan mengunakan teknologi,e-commerce dapat dijadikan sebagai solusi untuk membantu perusahaan dalam mengembangkan perusahaan dan menghadapi tekanan bisnis.Tingginya tekanan bisnis yang muncul akibat tingginya tingkat persaingan mengaharuskan perusahaan untuk dapat merespon.Penggunaan e-commerce dapat meningkatkan efisiensi biaya dan produktifitas perusahaan,sehingga dapat meningkatkan kemampuan perusahaan dalam bersaing.